Jakarta, CNN Indonesia — Amazon, Microsoft, dan Intel mulai mengembangkan senjata otomatis dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Berdasarkan sebuah laporan hasil penelitian, teknologi ini berpotensi membahayakan dunia.

“Mengapa perusahaan seperti Microsoft dan Amazon tidak menyangkal bahwa mereka saat ini sedang mengembangkan senjata kontroversial yang dapat membunuh orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung?”, kata Frank Slijiper, salah seorang peneliti tersebut.

Penggunaan kecerdasan buatan pada sistem senjata memungkinkan untuk menyerang target secara otomatis. Rencana ini menimbulkan perdebatan karena dianggap membahayakan keamanan internasional dan menandakan revolusi ketiga senjata peperangan setelah bubuk mesiu dan bom atom.

Profesor ilmu komputer Universitas California, Berkeley, Stuart Russell mengatakan, senjata otomatis ini cukup berbahaya karena dapat digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Menurutnya, satu orang saja dapat meluncurkan sejuta senjata atau bahkan ratusan juta senjata.

“Faktanya adalah senjata otomatis ini dikembangkan oleh korporat dan dalam hal mengampanyekan pencegahan senjata tersebut, mereka dapat memainkan peran yang sangat besar,” ujar Stuart pada AFP, Rabu (21/8).

Menurutnya, teknologi tersebut dapat dilengkapi dengan pengenalan wajah yang berarti dapat menyerang suatu grup etnis tertentu atau bahkan sekelompok orang dengan pandangan politik tertentu.

Larangan internasional terhadap kecerdasan buatan yang berbahaya sebaiknya penting untuk dilakukan.

Sebelumnya pada April lalu, Uni Eropa telah merilis panduan bagaimana perusahaan maupun pemerintahan harus mengembangkan kecerdasan buatan. Di dalamnya terdapat panduan seperti kebutuhan untuk pengawasan manusia dan menghargai privasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here