Suku primitif di pedalaman Papua menarik perhatian warga negara asing. Jurnalis dan wisatawan asing tertarik untuk mengetahui lebih jauh kehidupan manusia primitif di daerah yang berbatasan dengan Papua Nugina tersebut.

Wisatawan asing dari Belanda mendatangi suku primitif yang tinggal di dalam hutan belantara. Manusia primitif tersebut hidup berpindah-pindah seperti pada zaman prasejarah.

Wisatawa asing itu datang bersama istri, anak, dan rekannya. Ia dibantu penerjemah yang memahami bahasa manusia primitif di pedalaman Papua.

Dalam percakapan dengan suku pedalaman Papua, kepala suku membeberkan kehidupan mereka sehari-hari di dalam hutan belantara.

Bule cantik berbaur dengan manusia primitif di pedalaman Papua

Bule cantik berbaur dengan manusia primitif di pedalaman Papua

Meski terbilang primitif, mereka tetap menaggap tamu sebagai bagian dari keluarga. Mereka menerima warga asing dengan penuh suka cita.

“Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” kata ketua adat, seperti dikutip pojoksatu.id dari video berjudul “Kehidupan Primitif Suku Pedalaman Papua Barat” yang diposting oleh akun Ruslan Kamarov pada 1 Oktober 2018.

Dalam video tersebut, tampak seorang bule cantik berbaur dengan suku primitif di dalam hutan.

Ia mengenakan pakaian layaknya suku primitif. Hanya bagian bawah yang tertutup. Sementara bagian perut sampai kepala dibiarkan terbuka tanpa busana.

Bule cantik itu pun ikut mengerjakan rutinitas suku primitif, seperti membuat sagu. Bule cantik itu tampak enoy berbaur dengan suku pedalaman Papua.

Suku primitif ini bertahan hidup dengan cara berburu. Mereka juga mengandalkan sagu sebagai makanan pokok sehari-hari.

Bule cantik berbaur dengan manusia primitif di pedalaman Papua

Bule cantik membuat sagu bersama manusia primitif di pedalaman Papua

Dalam sesi wawancara, seorang kepala suku sempat tersinggung saat ditanya apakah mereka juga memakan manusia alias kanibal

“Apa maksud pertanyaan kamu,”? tanya kepala suku dengan tinggi sambil menatap ke arah si penerjemah.

“Belum (pernah memakan manusia), tetapi orang tua saya membunuh banyak orang,” jawabnya.

Si penerjemah kemudian bertanya apakah mereka pernah melihat uang, mobil atau kapal besar. Si kepala suku menjawab belum pernah. Dia pun berniat untuk melihat seperti apa bentuk uang kertas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here