Cerita Sosok Penjaga Keuangan di Wilayah Terdepan RI

0
55

Pemerintah sedang menggenjot program inklusi keuangan agar bisa menghadirkan akses dan layanan perbankan ke seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itu peran bank yang menjangkau sampai pelosok negeri dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memiliki jangkauan terluas di nusantara, yang hadir ke pelosok-pelosok Indonesia bahkan ke wilayah terdepan. Di daerah, BRI mengerahkan para mantri untuk menggaet nasabah baru dan memberikan layanan yang ramah dan maksimal kepada masyarakat.

Salah satu potret perjuangan mantri dalam memperluas program inklusi keuangan adalah di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di wilayah yang berada di bagian paling selatan Indonesia ini, para mantri berujuang hingga pelosok untuk menjangkau nasabah dan menghadirkan layanan perbankan kepada masyarakat.

Makarius Johanes atau akrab disapa Joe (31) merupakan salah satu mantri yang sudah akrab dengan debu jalanan sehari-harinya. Maklum saja, nasabah yang ia tangani tinggal di pelosok Rote Ndao yang meliputi Rote Tengah hingga Rote Timur. Kondisi jalan yang ia lalui belum teraspal sepenuhnya, sehingga hanya beralaskan tanah atau bebatuan.

Joe berkelakar, dari dandanannya pun ia berbeda dari mantri-mantri pada umumnya. Hal ini memang melihat kondisi medan yang ia lalui cukup ekstrem.

“Pakaian saya paling beda. Kalau yang lain pakai sepatu pantofel, saya pakai sepatu kets. Kalau pantofel mungkin sebulan sudah ganti. Celana juga saya pakai jeans. Makanya pakaian seperti ini pakai jeans dan sepatu kets. Saya saja yang boleh begini karena lihat medannya itu,” ujar Joe.

Joe sudah menggeluti profesinya tersebut sejak 2015 di Kupang. Awal 2019 ini, ia dipindahkan ke Kabupaten Rote Ndao dan ditempatkan di BRI Teras Pantai Baru. Jarak antara Pantai Baru ke Ba’a, daerah yang disebut sebagai Ibu Kota Kabupaten Rote Ndao, sejauh 40 km. Ia menangani 196 nasabah pinjaman dan sekitar 400 nasabah tabungan.

Sehari-hari Joe ditemani oleh motor kesayangannya selama bertugas. Jarak puluhan kilometer pun ia terabatas dengan motor dinasnya tersebut. Banyak suka dan duka ia alami. Terlebih lagi jalan yang dilalui melewati rimbunan semak, pohon dan ladang kosong. Apesnya, adalah ketika ban motor sudah bocor. Menurut Joe, kejadian ini sering ia alami selama bertugas.

“Paling sering setiap bulan itu bisa 7 sampai 8 kali. Jalannya kan kita masih pengerasan, Jadi batu karang itu. Kalau ban sudah pecah itu saya stres,” ungkapnya.

Bukan hanya soal transportasi dan kondisi jalan, Joe juga mengaku kesulitan mendapat makanan dan minuman selama bertugas. Jarang ada warung atau kios yang ia temui ketika menyusuri pelosok Rote Ndao. Solusinya, ia selalu membawa perbekalan untuk menjaga kondisi badannya selama bertugas.

Ia mengkaui, menjadi mantri yang bertugas mencari nasabah bukan perkara mudah. Terlebih lagi kondisi masyarakat yang ia datangi jauh dari keramaian. Menurutnya perlu pendekatan khusus agar mereka terbuka menerima kehadirannya.

“Kalau masyarakat harus dengan pendekatan secara pribadi. Karena kalau untuk perbankan itu orang kampung masih malu-malu. Jadi saya harus pakai pendekatan pribadi mengubah image mereka bahwa bank ini menggunakan pengawasan, aman dan kalau ada apa-apa itu ada asuransi segala macam,” tutur Joe.

Meski dengan segala kendala yang ada, Joe tetap bersyukur bisa mengabdi untuk masyarakat yang membutuhkan akses perbankan. Tantangan dan rintangan yang ia hadapi sehari-hari pun dianggapnya sudah biasa karena kedekatan BRI dengan masyarakat sudah terjalin dengan erat.

“Sukanya saya bisa mengenal lebih banyak daerah, jadi tahu kalau Rote itu begini. Setelah saya jalani juga merasa nyaman. Kalau di sana sudah kenal, dianggap seperti keluarga. Bahkan kalau seperti keluarga itu mereka kalau punya pesta itu pasti diundang,” pungkas Joe.
(adv/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here