Tanggapan Ketum PPWI Atas Rencana Pelaporan Wali Kota Langsa

0
260
Ketua Umum PPWI Nasional Dalam Satu Acara

Detik.in – Ramai pemberitaan Walikota Langsa atas beredarnya video sadisme, dirinya tak terima dituding mengidap gejala Psikopat yang ditulis oleh beberapa media online, Wali Kota Langsa, Usman Abdullah pun akan melaporkan penghinaan itu ke polisi.

 

“Tudingan psikopat yang dituduhkan kepada saya sudah tidak bisa ditolerir lagi dan telah mencemarkan nama saya bersama keluarga. Ini harus kita laporkan kepada aparat penegak hukum,”ujarnya, Selasa (26/9). Sebagaimana dikutip GoAceh.Co

 

 

Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, melalui pernyataan tertulisnya pun menyampaikan beberapa tanggapan terkait rencana pelaporan Walikota Langsa ke pihak Polisi seperti yang ramai diberitakan di beberapa media lokal Aceh baru-baru ini.

 

 

Menurut alumni PPRA- 48 Lemhannas RI tahun 2012 ini, bahwa sikap dan langkah yang akan diambil oleh Walikota Langsa untuk melaporkan tudingan tersebut ke Polisi itu adalah hal yang wajar dalam Negara berdemokrasi.

 

 

“Itu adalah hal yang biasa saja di negara demokrasi yang berdasarkan kepada hukum positif, silahkan beliau merespon pemberitaan itu melalui jalur yang ada,” ungkap Wilson Lalengke melalui Chat WAG, Rabu (27/9/2017) pagi dini hari.

 

Wilson yang juga Pendiri PPWI ini pun menyampaikan sarannya kepada Walikota dan teamnya, sebaiknya gunakan akal sehat, lakukan introspeksi di internal, sebelum persoalan tambah panjang dan berdampak buruk bagi beliau.

 

 

“Pertanyaannya sederhana, apakah layak seorang walikota melakukan hal itu, menyebarkan video sadisme, penyiksaan dan pemenggalan leher manusia seperti itu, layaknya menggorok leher ayam saja,” ujar Wilson yang menyelesaikan studi pascasarjana bidang Global Ethics dan Applied Ethics di 3 universitas ternama di Eropa itu.

 

 

Menurutnya, kalau orang awam atau preman pengangguran yang tiada kerjaan melakukan hal buruk seperti itu, tentu masih masuk akal sehat publik. Lah, ini walikota…? Apa kata dunia, boss??

Lebih jauh, Wilson menjelaskan, secara keilmuan, sikap dan perilaku menyimpang yang menunjukkan sadisme, brutalisme, kekerasan tanpa empati sesama manusia, merupakan salah satu gejala sakit jiwa atau psikopat. Silahkan walikota dan teamnya mempelajari hal ini, banyak referensi di perpustakaan bahkan di internet juga tersedia teori tentang psikopat.

 

 

“Penyebaran video yang menggambarkan hal-hal sadis tanpa rasa bersalah; malahan terlihat senang, terpuaskan, mungkin karena korbannya ketakutan dan dilingkupi rasa was-was, dan lain-lain, adalah indikasi yang menunjukkan bahwa pelaku dapat diduga berkelainan jiwa,” jelasnya.

 

 

Wilson pun menyampaikan, sebagian ahli psikologi juga memasukkan kelompok teroris dan mereka yang gemar menebarkan rasa takut kepada orang lain, ke dalam kategori orang sakit jiwa, yang perlu diobati.

 

 

“Jika benar walikota itu merespon pernyataan saya dengan membuat laporan polisi, yang bermakna beliau merasa tidak bersalah melakukan penyebaran video sadisme itu, maka hal tersebut menjadi penegasan bahwa dugaan oknum walikota Langsa itu sakit jiwa alias psikopat semakin kuat,”  tegasnya.

 

Wilson peraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari The University of Birmingham – England dalam bidang Global Ethics (Etika Global)mengatakan, Unsur “merasa tidak bersalah atas sikap dan perilaku sadistis” ketika menyebarkan video pemenggalan kepala  manusia oleh sang walikota semakin tak terbantahkan.

 

 

“Walikota yang baik dan sehat jiwa-raganya akan merasa bersalah dan minta maaf kepada warganya yang menjadi korban teror video sadis yang dilakukannya,” imbuh Wilson yang merupakan pembina/penasehat media-media yang tergabung di PPWI Media Group.

 

 

 

Kasus ini menarik dan penting, setidaknya bagi warga masyarakat Langsa dan dimanapun bisa semakin waspada terhadap oknum yang memiliki riwayat psikologis menyimpang, “yang indikasinya telah terpublikasikan di tengah masyarakat,” Pungkasnya mengakhiri. (ade/rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here