ceritanya, nih, kamu adalah pemilik tas termahal yang pernah dilelang: Hermès Niloticus Crocodile Himalaya

0
924

Jadi ceritanya, nih, kamu adalah pemilik tas termahal yang pernah dilelang: Hermès Niloticus Crocodile Himalaya Birkin 30, atau singkatnya, tas White Himalayan. Terus apa? Kita potong aja label harganya, terus tas ini dimasukkan ke laci sebagai kenang-kenangan? Ya enggak lah. Plis deh. Ini tas termahal sedunia lho.

Supaya orang awam bisa ngerti juga soal tas yang absurd ini, GARAGE ngobrol bareng beberapa ahli tas soal cara merawat dan menggunakan sesuatu yang harga satu tasnya bisa buat ongkos kuliah di kampus bergengsi macam Harvard atau Stanford dari masuk sampai lulus.

Pertama-tama, White Himalayan Birkin digadang-gadang sebagai tas terlangka yang pernah diproduksi Hermès. Bahkan “orang dalam” enggak ada yang tahu persis jumlah produksi tas ini setiap tahun. Satu pakar menyampaikan bahkan klien top Hermès yang masuk ke toko dan berniat membeli tas itu harus ikhlas namanya sekadar masuk daftar tunggu.

Tas ini terbuat dari kulit buaya, dicelup pada warna gradasi putih di bagian tengah dan abu-abu di bagian pinggir dengan bubuhan berlian putih. (Inilah yang membedakan tas itu dengan Birkin “Himalayan” lainnya.) Terus, kenapa dinamai Himalaya begitu? Katanya, gradasi kulit buaya ini terinspirasi dari puncak gunung bersalju sebuah pegunungan. Jadi, bukan dari spesies buaya asal Himalaya—yang memang enggak ada hewan tersebut.

White Himalayan mencetak rekor di lelang Christie’s Hong Kong setelah terjual dengan harga US$382.000 (setara Rp5,1 miliar). Kebetulan, White Himalayan yang terjual sebelum itu juga mencetak rekor, begitu pula penjualan sebelumnya. Bagi sebagian besar orang, menjinjing barang seharga lebih dari Rp5 miliar di bahu pastinya bikin ketar-ketir. Tapi menurut spesialis tas tangan Christie’s Caitlin Donovan, tas-tas ini semacam karya seni yang bisa dikenakan, yang memang dibuat untuk digunakan. “Tas-tas ini dibuat dengan keterampilan dan keempuan tingkat tinggi. Tas ini memang dibuat untuk dipakai, kok. Sama halnya dengan produk Hermès lainnya.”

Pertanyaannya, benarkah orang tajir yang mampu membeli WH Birkin menggunakan tas itu dalam kegiatan sehari-hari?

Saya ngobrol bareng Jane Angert, perempuan di balik reseller tas JaneFinds yang tinggal di New Jersey. Dia sudah menggeluti pasar tas branded bertahun-tahun. “Terakhir saya menjual White Himalayan ke seorang putri kerajaan, dia memakainya di kesempatan tertentu. Perempuan lain, klien di sekitaran sini juga punya satu. Dia memakainya ke pertunjukan opera—kayak perhiasan aja!”

Angert mengungkapkan, dengan sangat serius, apapun yang kita lakukan jangan sampai mengenakan tas itu dengan jins.

“Jangan pakai denim karena warnanya nempel. Saya pernah punya pelanggan yang membeli Himalayan Birkin 35cm dan mengenakannya dengan jins ke Hamptons. Dia menghubungi saya keesokan harinya, histeris karena mendapati tasnya jadi berwarna biru.”

Horor banget buat pecinta fashion kelas atas. Klien itu untungnya sampai ke toko Hermès tepat waktu, sehingga staf di sana bisa langsung membersihkannya. “Istilahnya, dimasukin ke spa,” imbuh Angert.

Ada pula klien yang membawa tasnya ke pantai dan jengkel saat tasnya berubah karena pasir dan cipratan air. Dia mengira, tasnya enggak bakal kenapa-kenapa karena habitat buaya kan di air (wkwkwkwk, enggak bisa disalahkan sih. Logika orang tajir kadang masuk akal juga).

Untuk perawatan secara umum tas termahal sejagat itu, Donovan dan Angert sepakat prioritas utamanya adalah mempertahankan bentuknya. Hal ini bisa dilakukan dengan mengisi tas atau, yang disebut Angert “baginizer,” yang dia buat sendiri lima tahun lalu untuk setiap pembelian tas di toko JaneFinds. Menurutnya, perawatan seperti ini dapat menghindari pengelupasan, penyok, atau terekana noda dari lipstik yang tutupnya enggak kenceng. Selain itu, letakkan tas mahal tersebut di dalam kantung debu, hindari sinar cahaya langsung, jauhkan dari benda tajam, atau paku berkarat.

Ironinya barang yang begitu berharga dan mahal ini sebetulnya dibuat untuk bertahan hingga puluhan tahun. “Tas mewah ini bukan kaca, ini adalah aksesori,” ujar Donavan. Oleh karena itu, Angert menyarankan, terutama untuk tas-tas berkulit buaya, adalah pemeliharaan setahun sekali di spa Hèrmes.

Kalau kamu lagi pengin nyari Himalayan Birkin (sori, enggak ada yang pakai berlian putih) ada satu penawaran di lelang Christie’s. Sejauh ini sih tas tersebut baru ditawar seharga US$85,000, bersamaan dengan merchandise Louis Vuitton x Supreme (seperti kaus yang sejauh ini dilelang seharga $10,000), dan satu nampan Chanel 2.55.

Kalau kamu cukup berani bermimpi kalau bisa membeli tas macam ini, saran kami sih segera beli sekarang. Apalagi kamu sudah tahu tips merawatnya dari sumber terpercaya. Kalau terlalu menunggu, kamu pasti menyesal di lelang tahun depan, yang mana saya yakin yakin Niloticus Crocodile Himalaya Birkin 30 bakal mencetak rekor baru. Lagi-lagi, kalau emang mampu ya. Soalnya, dalam perkara tas, cuma langit batas dari kemahalannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here