KONSERVASI TERPADU DI WAKATOBI

0
18

Wakatobi :

  • Terdiri dari empat gugusan pulau besar yaitu Wangi wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko dan ratusan pulau kecillainnya
  • Merupakan taman nasional terluas kedua di Indonesia setelah Taman Nasional Teluk Cendrawasih
  • Memiliki luas 1,390,000 hektar yang terdiri dari 97 % laut dan 3 % daratan
  • Merupakan rumah bagi empat jenis penyu, ikan dan terumbu karang
  • Ditetapkan sebagai taman laut nasional sejak tahun 1996
Penelitian ilmiah menunjukkan hubungan sistematis antara Taman Nasional Wakatobi dengan kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang mencakup wilayah enam negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste hingga Kepulauan Solomon. Kawasan Segitiga Terumbu Karang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. 

Selain menjadi habitat penting bagi empat spesies penyu laut, Taman Nasional Wakatobi juga memiliki ekosistem terumbu karang sangat sangat kaya. Di kawasan ini ditemukan setidaknya 396 spesies karang sceleractanian, 31 spesies fungia, 31 spesies foraminifera, 34 spesies stomatopoda, dan lebih dari 942 spesies ikan.

Kawasan Taman Nasional Wakatobi dihuni oleh lebih dari 100.000 orang yang tersebar di sekitar 100 desa di dalam empat gugusan pulau utama.Ini adalah salah satu fitur yang unik dari Wakatobi mengingat taman nasional secara umum tidak memungkinkan orang-orang untuk mendiami daerah untuk tujuan perlindungan dan pelestarian. Kondisi seperti ini merupakan tantangan bagi masyarakat Wakatobi untuk menjaga dan mengelola daerah sambil menjamin kelestarian keanekaragaman hayati, mengingat mayoritas masyarakat Wakatobi menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut.

Ancaman

Ancaman utama Wakatobi adalah kerusakan terumbu karangakibat perubahan temperatur air laut yang dramatis, penangkapan ikan dengan cara tidak ramah lingkungan seperti menggunakan bahan peledak dan racun sianida. Ancaman lainnnya adalah penambangan pasir, pembangunan infrastruktur di daerah pesisir, pengembangan kegiatan wisata yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, dan masalah sampah

Program dan Pencapaian WWF di Wakatobi

Program WWF di Wakatobi mencakup tiga program utama yaitu

  • Survey dan pemantauan
  • Mata pencarian yang berkelanjutan, pariwisata, dan perikanan
  • Penjangkauan dan penyadartahuan masyarakat.

WWF bekerjasama dengan mitra-mitra terkait untuk mendukung Balai Taman Nasional Wakatobi meningkatkan efektivitas pengelolaan taman nasional.

Survey dan Pemantauan

Program pemantauan dan pengawasan sumber daya alam difokuskan pada pengumpulan data pemanfaatan sumberdaya laut di delapan daerah terumbu karang, mangrove, rumput laut, habitat penyu, burung laut, mamalia laut, dan daerah pemijahan.  Mayoritas kegiatan monitoring dilaksanakan untuk mengawasi penangkapan ikan menggunakan bom dan sianida, serta perburuan ilegal penyu. Hasil monitoring umumnya digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas pengelolaan taman nasional serta memberi rekomendasi pada manajemen tindakan apa yang perlu diambil.
Aktivitas pengawasan dan pemantauan ketat melalui patroli secara reguler dilakukan melalui kerjasama antara Balai TN Wakatobi, Dinas Perikanan Wakatobi, WWF-Indonesia dan kelompok-kelompok masyarakat.

Penjangkauan dan Penyadartahuan Masyarakat

Dukungan dari pemangku kepentingan, terutama dari masyarakat setempat yang mendapatkan manfaat dari sumber daya dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, adalah kunci efektivitas pengelola kawasan konservasi.Karena itu WWF memfasilitasi kedua belah pihak untuk meningkatkan partisipasi aktif dalam perencanaan, manajemen dan evaluasi pengelolaan taman nasional.Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat di Wakatobi dilakukan antara lain dengan mengorganisir masyarakat dalam kegiatan penyuluhan lingkungan dan memasukkan modul pendidikan lingkungan dan sumberdaya alam dalam kurikulum lokal.

Mata pencarian yang berkelanjutan, pariwisata, dan perikanan

Pariwisata merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan pendapatan bagi masyarakatdengan cara yang tidak merusak. WWF bersama-sama dengan mitra membantu memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, perencanaan dan pengembangan komunitas pariwisata berbasis ekologi. Program ini diharapkan akan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menjamin kelestarian sumber daya alam yangberkelanjutan.

Di sisi lain, WWF tetap mendukung penangkapanikan sebagai sumber utama pendapatan masyarakat Wakatobi.Misalnya untuk menjamin kelangsungan perikanan kerapu dan kakap WWF mendorong dan memfasilitasi pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan pemantauan dan perlindungan situs pemijahan serta mendorong nelayan lokal untuk mengubah teknik memancing yang lebih baik. WWF membantu menjaga kelestarian tuna dengan memfasilitasi nelayan lokal meningkatkan kualitas ikan yang ditangkap dan membantu kelompok nelayan terhubung dengan pasar.

Kegiatan perikanan di Wakatobi dibatasi sesuai zonasi, mengutamakan pemanfaatan oleh masyarakat setempat.

Penangkapan ikan secara berlebih (overfishing) mengancam stok ikan baik untuk industri perikanan maupun keamanan pangan daerah.
Insert link

  • tips wisata ramah lingkungan
  • tips pengamatan terumbu karang yang ramah lingkungan
  • tips mengamati penyu

Pada Juli 2007, zonasi Wakatobi resmi diberlakukan. Dari luas total 1,390,000 hektar:

  • 1.300 ha diperuntukkan sebagai kawasan inti, tidak boleh dijadikan tempat pengambilan ikan maupun jalur lintasan, kecuali penelitian.
  • Sekitar 36.450 ha untuk zona perlindungan bahari,
  • 6.180 ha untuk zona pariwisata,
  • 804 ribu ha untuk pemanfaatan lokal,
  • 495.700 ha untuk zona pemanfaatan umum,
  • 46.370 ha untuk zona khusus daratan.
Tata ruang ini didukung oleh komitmen Pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk mengembangkan dan mengandalkan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan, serta pariwisata.Sejak itu, praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan berhasil dikurangi hingga lebih dari 90% di kawasan ekologis penting seperti lokasi pemijahan ikan yang dilindungi dan dipantau secara berkala. Selain itu, kearifan adat masyarakat berupa pola ‘buka-tutup’ kawasan penangkapan ikan diakui dan diterapkan secara penuh sehingga masyarakat mendapatkan ikan yang berlimpah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here