Makam Sunan Gunung Jati Di Cirebon

0
140

Sunan Gunung Jati dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah. Ia adalah putera dari Nyai Rara Santang, salah seorang puteri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari ibunda Nyai Subang Larang. Ayahnya bernama Syekh Maulana Akbar yang berasal dari Negeri Gujarat di India Selatan. Dengan demikian, ia adalah salah satu cucu dari raja terbesar Pajajaran. Sunan Gunung Jati dikenal sebagai satu-satunya anggota Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Tatar Pasundan atau wilayah Jawa Barat.

Sepeninggal Prabu Siliwangi, Kerajaan Pajajaran mengalami kemunduran dan terpecah belah. Salah seorang puteranya, Raden Walangsungsang, memisahkan diri dari kekuasaan pusat dengan mendirikan Keraton Cirebon dengan gelar Prabu Cakrabuana. Sang prabu tidak memiliki seorangpun putera laki-laki. Tatkala Syarif Hidayatullah telah dewasa dan kembali dari pengembaraan di Tanah Suci Mekkah, maka ia kemudian dinikahkan dengan saudara sepupunya yang bernama Dewi Pakungwati. Kelak Syarif Hidayatullah menggantikan tahta uwaknya dan membangun Keraton Pakungwati yang kini dikenal sebagai Keraton Kasepuhan Cirebon.

Setelah wafat, Sunan Gunung Jati dimakamkan di sebuah bukit kecil yang dikenal sebagai Gunung Sembung. Kompleks pemakaman ini berada di lintasan Jalan Cirebon – Indramayu, kurang lebih berjarak 4 km dari pusat Kota Cirebon ke arah utara. Sebagai salah seorang wali penyebar agama Islam, makam Sunan Gunung Jati selalu dipadati oleh para peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan kaum muslimin dari luar negeri.

Memasuki area pemakaman dari jalan utama, peziarah akan menjumpai barisan toko-toko yang menjajakan aneka rupa kebutuhan ziarah, seperti kembang tujuh rupa dan kemenyan. Di samping itu, kebanyakan dari toko-toko tersebut juga menjual aneka perlengkapan dan peralatan ibadah, mulai dari sarung, peci, baju koko, mukena, tasbih, hingga kitab suci Al Qur’an dan berbagai kitab ataupun buku-buku keagamaan yang lain. Menambah semarak, di banyak toko juga menjajakan barang-barang khas Cirebon, seperti kujang, aneka koas, kain batik, bahkan senjata tajam semisal kujang dan keris.

Jika akan memasuki area pemakaman, peziarah akan melewati gerbang gapuroutama yang tersusun dari tatanan batu bata merah yang berdiri tambun dan anggun. Tepat di belakang gapuro inilah berjejeran para peminta sedekah yang membawa wadah penampung uang sumbangan, seperti kotak amal, hingga panci baskom dari tembaga.

Selepas gapuro utama, sebenarnya terdapat 9 pintu makam yang masing-masing sekaligus membedakan tingkatan-tingkatan area makam yang berundak membentuk terasiring. Setelah beberapa lika-liku lorong ditempuh, peziarah hanya dibatasi hingga di depan pintu ke lima yang dikenal sebagai pintu Pasujudan. Di sinilah kebanyakan pengunjung memanjatkan doa ataupun tahlil lengkap dengan Surat Yasin. Antara tempat Pasujudan dengan kompleks dalam makam dibatasi pintu terkunci rapat dan hanya bisa dimasuki oleh para kerabat Keraton Cirebon dan abdi dalem terpercaya saja.

Sebagai suatu pengetahuan tambahan, para abdi dalem Kanjeng Sultan yang dipercaya menjaga dan mengurusi kompleks Makam Sunan Gunung Jati ini jumlahnya selalu 108 orang. Mereka adalah anak-cucu atau keturunan dari para prajurit Keling dari Kerajaan Kalingga yang konon dulu sempat terdampar di perairan Cirebon dan terpilih untuk menjadi pengawal pilihan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Suasana di depan pintu Pasujudanhampir dapat dipastikan selalu ramai dan penuh sesak dengan para peziarah yang datang silih berganti. Tidak hanya siang dan malam, para peziarah juga banyak yang datang justru di jam-jam setelah tengah malam. Puncak kepadatan peziarah biasa terjadi di malam Jum’at Kliwon maupun Selasa Legi.

Di sisi kanan dan kiri pintu Pasujudanterdapat beberapa padasan berisi air suci untuk berwudlu para peziarah. Air tersebut terkadang juga banyak diwadahi dalam botol air mineral untuk dibawa pulang oleh para peziarah. Di area kompleks makam juga terdapat beberapa sumur sumber air yang dikeramatkan, seperti sumur kamulyan, sumur djati, kanoman, kasepuhan, dan jalatunda. Khusus mengenai sumur jalatunda, konon dulu dibuat oleh Sunan Kalijaga pada saat rombongan para wali berkunjung ke wilayah Cirebon. Tanah Cirebon sedari dahulu dikenal tandus dan sangat sulit untuk menemukan sumber air tawar. Maka pada saat akan menunaikan sembahyang, para wali memerintahkan Sunan Kalijaga untuk membuat atau menemukan mata air untuk berwudlu. Akhirnya dengan menancapkan sebatang ranting kecil, muncullah sebuah pancaran air yang lama-kelamaan kian membesar sehingga amblas dan membentuk sebuah sumur. Sumur inilah yang dikenal sebagai sumur jalatunda.

Berziarah ke makam wali terkenal seperti Sunan Gunung Jati banyak membawa hikmah tersendiri bagi setiap peziarah. Nilai-nilai keutamaan dan keteladan akhlak dari sang sunan dapat dijadikan contoh bagi segenap kaum muslimin di sepanjang masa. Jika sampeyan pernah mengunjungi makam para sunan yang lain di Demak, Kudus, Muria, Gresik, Ampel, atau Giri, maka baru akan lengkap jika sampeyan juga menyempatkan diri berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here