Naskah kuno yang disimpan di Situs Kabuyutan Ciburuy

0
217

Tulisan bisa menjadi sebuah karya yang dikenang.

Terutama jika berisi petuah-petuah kehidupan.

Zaman dulu, masih sedikit orang yang mengabadikan petuahnya dalam sebuah naskah.
Keberadaan naskah kuno pun menjadi benda yang amat berharga.

Salah satunya kumpulan naskah kuno yang masih terjaga berada di Situs Kabuyutan Ciburuy, Kampung Ciburuy, RT 1/5, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong.

Naskah kuno itu ditemukan pada tahun 1483 masehi.

Namun, umur naskah tersebur diperkirakan lebih tua.

Juru kunci Situs Kabuyutan Ciburuy, Nana Suryana (36) alias Ujang, merupakan keturunan ke 149 yang menjaga naskah kuno tersebut.

Menurutnya naskah tersebut sudah turun temurun dijaga keluarganya di situs seluas 1.570 meter itu.

Terdapat tiga judul naskah kuno yang berada di Situs Kabuyutan Ciburuy.

Dari ketiga naskah, baru satu naskah yang telah diterjemahkan.

“Judul yang pertama itu amanat galunggung siksa kandang kareusian. Kareusian itu artinya kewalian. Terus ada sewakadarma atau pujangga manik dan terakhir ramayana,” ujar Ujang saat ditemui di Situs Kabuyutan Ciburuy, Kamis (14/9/2017).

Naskah-naskah kuno tersebut tertulis dalam aksara sunda buhun dalam daun lontar.

Setiap huruf yang ada di naskah ditulis menggunakan dua cara.

Yakni memakai tinta dan diukir.

Penggunaan daun lontar sebagai simbol agar bisa disalin, dibaca, dan digali maknanya.
Penelitian tentang naskah kuno tersebut baru dimulai pada tahun 2007 yang digagas peneliti dari Universirtas Padjajaran.

“Ada juga peneliti dari Jerman, Itali, dan Belanda yang ikut membantu. Hasilnya belum diketahui semuanya. Baru naskah kedua soal pujangga manik yang bisa diterjemahkan,” kata Ujang yang sudah menjadi kuncen sejak 2001 menggantikan ayahnya.

Ketiga naskah kuno itu disimpan dalam peti.

Sebagian naskah kuno kondisinya sudah rapuh dimakan usia.

Namun, sebagian lagi masih bagus.

Dari hasil penelitian, penulis naskah kuno tersebut merupakan penyair dari Negara Hindia atau dari Kerajaan Hindu Budha.

“Tapi untuk siapa nama penulisnya belum diketahui. Riwayat ayah saya, barang (naskah kuno) sudah ada di lokasi ini sejak lama. Dulunya masih dibungkus pakai gentong. Tidak berani dibuka,” ujarnya.

Naskah-naskah kuno itu, menurut Ujang merupakan rangkuman dari tiga kitab yang ada di dunia ini.

Yaitu kitab Zabur, Tauret, dan Injil.

Naskah tersebut memang diperuntukkan bagi umat terakhir di dunia.

“Isinya macam-macam. Soal ilmu padi, pengobatan alternatif, dan ilmu kehidupan. Memang belum ada rangkuman soal Alquran di naskah ini. Soalnya naskah dibuat sebelum Alquran turun,” ucapnya seraya menyebut dalam naskah juga tertulis soal nabi-nabi yang membawa kitab.

Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, tadi pagi pukul 05.05 WIB, Jumat (15/9/2017).

Walau Islam belum tertulis dalam naskah, tanda-tanda soal Islam sudah tertuang dalam naskah itu.

Bahkan ia menyebut zaman praislam itu dengan sebutan agama Sunda Wiwitan yang memang melekat di tanah sunda.

Ujang menambahkan, naskah itu diperkirakan dibawa oleh Kerajaan Pajajaran.

Sampai saat ini, penelitian terhadap tiga naskah kuno itu masih belum selesai.

Ia pun terus merawat naskah tersebut agar bisa diterjemahkan.

“Ada ritualnya dalam merawat buku. Seminggu empat kali dirawat dengan cara dikasih asap kemenyan. Jadwalnya itu hari Senin sama Kamis setiap pagi, terus Rabu dan Minggu setiap sore,” katanya yang baru saja mendapat penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka sebagai pelestari naskah kuno yang diberikan Perpustakaan Nasional, Selasa (12/9/2017).

Selain naskah kuno, di Situs Kabuyutan Ciburuy juga terdapat benda peninggalan lainnya.

Berupa keris, kujang, trisula, hingga gunting.

Semuanya merupakan peninggalan zaman kerajaan praislam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here