Sejarah Dengan Arti Kata Losari Yang Sesungguhnya

0
841

Herman Tanjung yang menjadikan Pantai Losari sebagai lirik pembuka dilagu “Sumpah Benang Emas” tahu betul, kalau ikon kota Makassar ini punya daya tarik yang kuat.

Saat Elvy Sukaesih menyanyikan lagu tersebut, orang-orang malah mengenal lagu itu dengan judul “Pantai Losari” bukan “Sumpah Benang Emas”.

Deru ombak dan angin laut di Pantai Losari memang memberi kesan yang dalam bagi siapapun yang pernah berkunjung. Pemandangan lepas ke arah barat menjadikan Pantai Losari sebagai tempat terbaik menyaksikan matahari terbenam.

Tidak heran kalau jaman dahulu, pantai ini jadi favorit di kalangan bangsawan dan orang-orang Belanda untuk bersantai. Merekalah yang membangun daerah tersebut pada awal abad 20-an untuk tempat melepas lelah sambil menyaksikan matahari terbenam.

Edward Lamberthus Poelinggomang
Edward Lamberthus Poelinggomang

Sejarawan Makassar Edward Lamberthus Poelinggomang kepada Makassar Terkinimengatakan, kawasan Losari dulunya sama dengan kebanyakan pantai di Indonesia. Ditumbuhi pepohonan kelapa yang tinggi dan berpasir.

Warna pasirnya memang tidak putih, namun posisinya yang mengarah tepat ke sebelah barat menjadikannya cukup sempurna.

Berada di dekat Benteng Rotterdam, jalan di depan Pantai Losari awalnya bernama Jalan Boulevard kemudian berganti nama jadi Jalan Pasar Ikan dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Penghibur.

Saat awal-awal dibuka, ada banyak sekali pedagan yang berjualan di sepanjang Pantai Losari. Tempat ini juga menjadi lokasi favorit untuk memancing ikan oleh masyarakat umum.

Kebiasaan orang Belanda yang menempatkan pegawai atau pekerja-pekerjanya di Pantai Losari saat singgah di Makassar menjadi cikal-bakal ketenaran pantai ini. Karena semakin banyak yang datang untuk melihat mahahari terbenam dan jajan makanan ringan, daerah Losari pun maju pesat.

Setelah puluhan tahun berdiri, sudah banyak perubahan yang terjadi di Pantai Losari. Hotel pertama yang berdiri di kawasan ini adalah Hotel Sedona yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Aryaduta.

[nextpage title=”Cikal Bakal Nama Pantai Losari”]

Cikal Bakal Nama Pantai Losari

Ada banyak persepsi tentang nama Losari. Ada yang mengatakan nama Losari berasal dari dua suku kata, yakni “Los” dan “Ari”. Los secara harfiah berasal dari Bahasa Jawa yang ambiguous, yang artinya tempat berjual-beli seperti toko-toko atau pasar.

Sedangkan “Ari” dimaknai sebagai pembungkus dan penyuplai seperti yang dimaknakan pada kata “ari-ari”.

Namun, Edward mengatakan lain. Ia yakin kata “Los” dalam kata Losari bukan dimaknai sebagai tempat penjualan, karena kenyataannya tidak ada los penjualan di Losari, yang ada hanya deretan pedagang-pedagang kecil.

“Asal kata Losari kemungkinan besar diserap dari bahasa Itali atau Latin, di mana bangsa Itali yang dominan masyarakatnya menganut katolik roma memiliki tradisi menggunakan kalung salib yang sering disebut Rosario,” kata Edward yang kini aktif mengasuh Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Dipanegara.

pantai losari

Jika melihat posisi Losari saat ini, tepat di depannya ada gereja katolik pertama di Makassar. “Sehingga kemungkinan besar kata Losari adalah serapan dari kata Rosario menjadi Losario yang lama-kelamaan penyebutannya menjadi Losari.”

Hingg saat ini memang belum ada yang memastikan arti kata Losari dan sejak tahun kapan pantai di sebelah barat Kota Makassar ini disebut Pantai Losari. Tapi semua orang Sulawesi Selatan tahu, kalau menyebut Losari artinya ada Pisang Epe.

[nextpage title=”Restoran Terpanjang di Dunia”]

Pantai Losari Dijuluki Restoran Terpanjang di Dunia

Pada awal tahun 70-an, saat Kota Makassar dipimpin Wali Kota Muhammad Daeng Patompo, Pantai Losari kemudian disulap menjadi pusat kuliner. Pada saat itulah Losari mendapat julukan restoran terpanjang di dunia.

Dengan panjang kurang lebih 1 kilometer, julukan ini tidaklah mengada-ada. Karena model Pantai Losari jaman dahulu hanya berbentuk lurus dengan dibatasi tembok besar yang bisa berfungsi sebagai meja makan.

losari

Sepanjang Pantai Losari muncullah sejumlah penjual makanan ringan hingga berat yang tempat makannya di tembok pembatas itu. Aneka rupa jajanan yang disediakan cukup menarik minat, namun tetap didominasi makanan khas, seperti Pisang Epe, Buroncong dan Pisang Ijo.

Karena perkembangannya yang pesat, semakin banyak orang yang datang dan mencari nafkah dengan berjualan di Pantai Losari.

“Kondisi perekenomian masyarakat, utamanya dari daerah yang masih rendah, membuat Losari jadi pusat berniaga paling menjanjikan kala itu,” kata Suriadi Mappangara, Dosen Sejarah Universitas Hasanuddin Makassar yang menceritakan asal muasal para penjual di Pantai Losari.

Setelah 14 tahun wali kota Patompo menjabat dan mengubah Makassar menjadi lebih maju, pemerintahan kemudian dikemudikan oleh Amiruddin Maula pada tahun 1999 hingga 2004.

Amiruddin juga banyak membuat perubahan secara infrastruktur di kota Makassar dan merevitalisasi Pantai Losari yang kala itu mulai kumuh. Para pedagang makanan yang berjejel di bibir pantai kemudian di pindahkan ke jalan baru yang memotong lautan. Jalan itu kini bernama Jalan Metro Tanjung Bunga.

Losari kembali mengalami perubahan besar saat Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin menjabat. Saat itu, pedagang yang ada di jalan, kemudian dipindahkan lagi ke sebelah selatan Pantai Losari yang kemudian disebut sebagai Pantai Laguna.

Sayangnya, Pantai Laguna juga tidak bertahan lama. Padahal kawasan yang harus ditempuh lima menit dari Pantai Losari itu menyajikan beraneka macam jajanan murah dan punya fasilitas yang memadai.

Pilihan merombak Pantai Laguna, selain karena berkembangnya yang sembrawut, juga karena dimanfaatkan sebagai tempat tinggal beberapa orang. Kawasan ini juga sering mencuri perhatian masyarakat karena tingginya tindak kriminalitas.

Wali Kota Ilham saat itupun memutuskan untuk merelokasi Pantai Laguna. Posisinya saat ini telah hilang dan menjadi jalan masuk ke Metro Tanjung Bunga.

Ilham lah yang menyulap Pantai Losari menjadi jauh lebih tertata. Hingga akhirnya kini Pantai Losari punya tiga anjungan yang menjurus ke laut. Setiap anjungan punya nama yang berbeda dan mewakili keberagaman di Sulawesi Selatan.

Bagian yang tidak terkena revitalisasi, kembali dijadikan sebagai pusat kuliner dan bertahan hingga sekarang. Begitu juga sebagian bibir anjungan Bugis Mandar yang diresmikan terakhir oleh Wali Kota Danny Pomanto.

Dari sekian banyak perubahan Pantai Losari, kawasan ini masih tetap menjadi primadona Makassar. Wisatawan yang datang pun, rasanya tak afdol jika belum berkunjung dan makan Pisang Epe di tempat ini.

Meski tempat terindah untuk menikmati matahari terbenam ini akan terhalang pembangunan Center Poin Of Indonesia (CPI), namun pesona deburan ombak dan angin sepoi-sepoinya masih setia membuat cerita kepada pengunjungnya.

Lagu “Sumpah Benang Emas” pun masih akan menjadi pengingat, Pantai Losari yang berkesan.

sumber:  Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here