Undang Polemik, Reuni Akbar 212 Dianggap Provokasi Umat

0
192

Jakarta – Rencana kegiatan Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta Pusat, pada Minggu (2/12) mendatang, mengundang polemik.

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Habib Umar) dari Majelis Al-Muwasholah Bain Ulama Al-Muslimin, Forum Siltarahim Antar Ulama tidak setuju terhadap Reuni Akbar tersebut.

Menurut dia, Reuni Akbar itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam sekaligus memprovokasi umat. “Negeri ini saya harap selalu damai. Jaga persaudaraan, nikmat persatuan ini harus dijaga. Stop dan cukup kedengkian,” jelas Habib Umar dalam siaran persnya, Rabu (28/11).

Dia mengimbau umat Islam di Tanah Air untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT dalam memandang segala sesuatu.

“Hendaknya tidak tergesa-gesa terhadap apa yang tampak dari kejadian-kejadian secara dhahir saja. Tujuannya agar tidak terjerumus kedalam kehancuran dan keburukan sebagaimana  telah terjadi hal tersebut atas orang dan bangsa lain,” katanya.

Gerakan dan pemberontakan yang mengatasnamakan agama, lanjut Habib Umar, akan mengakibatkan kehancuran umat dan juga merusak persatuan umat dan kesatuannya.

“Bahkan berakibat pada sedikit maupun banyak hancurnya tradisi-tradisi umat, menghancurkan kesejahteraannya, kekuatannya, terjadinya pertumpahan darah, rusaknya kehormatan, hilangnya harta benda, dan kerusakan-kerusakan yang sangat besar sebagaimana sudah terlihat dan begitu nyata di hadapan kita,” imbuh ulama dari kota Trim, Hadramaut, Yaman itu.

Habib Umar pun memberikan contoh keteladanan Rasulullah SAW. Menurutnya, Nabi Muhammad tidak melakukan jihad kecuali setelah datang izin dari Allah SWT. Dan setelah mendapatkan izinpun Nabi berusaha mendamaikan sesama kaum muslimin.

“Beliau melakukan perdamaian dengan orang-orang musyrik yang telah memerangi kaum Muslimin. Juga membuat perjanjian damai dengan kelompok-kelompok lain dari orang-orang kafir,” ujarnya.

Habib Umar kembali menegaskan sekaligus memberikan nasihat, bahwa hendaknya para ulama dan orang-orang yang bernisbat kepada syariat dan agama menjauhi pemahaman-pemahaman yang berdampak buruk terhadap hati, jiwa dan diri mereka.

(Benny Benke/CN33/SM Network)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here