Khalifah Abu Bakar dan Gonjang-Ganjing Politik Setelah Nabi Wafat

0
125

Saat Rasulullah wafat, banyak orang tak bisa menerima. Umar bin Khattab, sahabat Nabi terkemuka, bahkan menghunus pedang dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Nabi wafat. Orang-orang panik dan gundah. Betapa tidak, sang junjungan, pemungkas para nabi, telah pergi untuk selama-lamanya.

Dalam situasi seperti itu, Abu Bakar Al-Shiddiq, sahabat Nabi yang terkenal lembut hatinya, hadir menyelamatkan akidah kaum Muslimin.

“Wahai sekalian manusia, barang siapa menyembah Muhammad, ketahuilah sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Dia Maha Hidup dan tak akan pernah mati,” ucapnya seperti terdapat dalam Abu Bakar Al-Shiddiq: Khalifah Pembawa Kebenaran (2014) karya Khalid Muhammad Khalid.

Kaum Muslimin seketika tersadar. Namun, hal itu bukan berarti membuat jalan yang hendak ditempuh sepeninggal Rasulullah menjadi mudah. Abu Bakar yang kelak menjadi khalifah pertama mesti menghadapi persoalan politik yang hebat. Pada pusaran ini pula muncul bibit-bibit perpecahan yang melahirkan sentimen tak berkesudahan antara Suni dan Syiah.

Muhammad Husain Haekal dalam Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi (2003) mencatat, ketegangan mula-mula muncul dari perbedaan status kaum Muslimin di Madinah, yakni kaum Ansar dan Muhajirin.

Ansar yang merasa telah membantu Rasulullah dan kaum Muhajirin saat mereka didustakan di Makkah, merasa lebih berhak meneruskan tampuk kepemimpinan. Lagi pula, pusat kepemimpinan Islam berada di Madinah, di kampung mereka sendiri.

Mereka segera berkumpul di sebuah tempat bernama Saqifah bani Sa’idah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah dari suku Khazraj, meski ia dalam kondisi sakit. Ia berkata bahwa kepemimpinan Islam setelah Rasulullah mesti dipegang kaum Ansar.

“Tepat sekali pendapatmu, dan kami tak akan beranjak dari pendapat itu. Kami serahkan persoalan ini ke tanganmu. Demi kepentingan kaum Muslimin engkaulah pemimpin kami,” jawab kaum Ansar serempak.

Di tempat terpisah, Abu Bakar sebagai mertua Rasulullah dan keluarga Nabi yang lain sedang berada di sekeliling jenazah Nabi. Mereka tengah mempersiapkan pemakaman. Sementara Umar bin Khattab mulai berpikir tentang suksesi kepemimpinan. Ia segera mendatangi sahabat Nabi yang lain, yakni Abu Ubaidah bin Jarrah.

“Bentangkan tanganmu [Abu Ubaidah], akan kubaiat engkau. Engkaulah orang kepercayaan umat ini atas dasar ucapan Rasulullah,” ucap Umar.

Abu Ubaidah segera menjawab, “Sejak engkau masuk Islam, tak pernah kau tergelincir. Engkau akan memberikan sumpah setia kepadaku, padahal masih ada Abu Bakar?”

Saat mereka tengah berdiskusi, kabar tentang pertemuan Ansar di Saqifah bani Sa’idah sampai ke mereka. Umar segera mengutus orang untuk menemui Abu Bakar. Mertua Nabi itu berkata bahwa dirinya sedang sibuk. Namun, karena desakan Umar, ia akhirnya datang menemui Umar.

“Engkau tidak tahu. Ansar sudah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka ingin menyerahkan pimpinan ini ke tangan Sa’ad bin Ubadah,” kata Umar.

Mereka pun segera pergi ke Saqifah Bani Sa’idah. Abu Bakar dengan kelembutan sikap dan pilihan katanya mencoba meyakinkan Ansar bahwa mereka, kaum Muhajirin, adalah orang-orang yang pertama menerima Islam. Oleh karena itu tampuk pimpinan alias amir lebih tepat di tangan mereka. Sementara Ansar tetap dilibatkan dalam pemerintahan sebagai wazir atau penasihat.

Sebagian besar kaum Ansar terpikat dengan gaya tuturnya sehingga sikap mereka melunak. Namun, ada juga yang tetap mempertahankan pendapat bahwa mereka lebih berhak menjadi pemimpin sebab Ansar-lah yang menolong Rasulullah dan kaum Muhajirin.

Ketegangan terus terjadi. Umar bin Khattab sebagai Muhajirin dan al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh dari Ansar terlibat perdebatan yang tajam. Di tengah situasi seperti itu, Abu Ubaidah bin Jarrah hadir sebagai penengah.

“Saudara-saudara Ansar! Kalian adalah orang yang pertama memberikan bantuan dan dukungan, janganlah sekarang jadi orang yang pertama pula mengadakan perubahan dan perombakan,” ucapnya.

Setelah itu Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan orang-orang Ansar membaiat Abu Bakar sebagai khalifah pertama penerus kepemimpinan Rasulullah.

Hasutan Abu Sufyan dan Sejumlah Versi tentang Ikrar Ali

Suksesi setelah Rasulullah wafat pasti bukan hal yang mudah, sebab akan sangat menentukan nasib umat Islam. Perselisihan yang paling populer tentu antara kaum Suni dan Syiah yang pokok masalahnya bermula dari penentuan khalifah setelah Rasulullah. Saking rumitnya, kisah tentang penentuan pemimpin ini memiliki beberapa versi.

Namun sebelum kita mengurai sejumlah versi tersebut, terlebih dahulu kita bahas tentang provokasi Bani Umayyah kepada Bani Hasyim, suku tempat Nabi Muhammad berasal.

Abu Sufyan, mantan gembong Quraisy yang masuk Islam setelah penaklukkan Makkah, adalah orang yang memanas-manasi anggota Bani Hasyim atas terpilihnya Abu Bakar yang berasal dari Bani Taim—sebuah suku yang kurang terkemuka.

“Sungguh, hanya darah yang akan dapat memadamkan sampah ini. Hai keluarga Abdu Manaf, mengapa mesti Abu Bakar yang memerintah kamu? Mana kedua orang yang dihina itu, yang diperlemah, Ali dan Abbas!” ucapnya.

Namun, menurut Muhammad Husain Haekal dalam Abu Bakar As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi (2003), Ali bin Abi Thalib segera menjawab dengan tegas, “Abu Sufyan, engkau selalu mau memusuhi Islam dan pemeluknya. Tetapi engkau tak akan berhasil. Aku berpendapat, Abu Bakar memang pantas untuk itu.”

Sementara menurut catatan Salih Suruç dalam Best Stories of Abu Bakar Shiddiq (2015), Abu Sufyan bahkan melecehkan Bani Taim dan hendak berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib.

“Bagaimana mungkin tanggung jawab ini diberikan kepada seseorang yang berasal dari sebuah suku kecil kaum Quraisy? Sungguh, aku sama sekali tidak meridainya. Wahai Abul Hasan, berikan tanganmu, aku akan membaiatmu,” kata Abu Sufyan.

Beberapa buku biografi Abu Bakar Al-Shiddiq yang saya periksa, hampir semuanya menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib menolak hasutan Abu Sufyan dan segera berbaiat kepada Abu Bakar. Narasi ini barangkali karena Indonesia adalah wilayah Muslim yang mayoritas Suni, sehingga konflik atau perebutan kekuasaan antara Abu Bakar dan Ali kurang mengemuka, di luar benar atau tidaknya fakta sejarah tersebut.

Penjelasan alternatif disodorkan Muhammad Husain Haekal. Ia membelah beberapa versi proses suksesi pasca-Rasulullah, terutama sikap Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar yang dibaiat Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan sebagian kaum Ansar.

Versi pertama yang ia kutip dari sebuah sumber yang bernama Ya’qubi menjelaskan, setelah Abu Bakar dibaiat, ada sejumlah sahabat yang tidak ikut membaiat dan justru mendukung Ali bin Abi Thalib, di antaranya: Abbas bin Abdul Mutthalib (paman Nabi), Fadl bin al-Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghifari, Bara’ bin Azib, dan Ubai bin Ka’ab.

“Kalaupun ini yang akan menjadi hak kami, kami tidak mau sebagian-sebagian,” kata Abbas bin Abdul Mutthalib kepada para pendukung Abu Bakar seperti dikutip Ya’qubi. Pernyataan itu menyuratkan bahwa ahlul bait atau keluarga Rasulullah menghendaki kepemimpinan sepenuhnya.

Versi lain yang lebih keras, masih menurut Ya’qubi, adalah adanya pertemuan di rumah Fatimah putri Rasulullah. Sejumlah orang Ansar dan Muhajirin berkumpul di rumah tersebut untuk membaiat Ali, salah satunya Khalid bin Sa’id yang berkata, “Sungguh, tak ada orang yang lebih patut menempati kedudukan Muhammad selain engkau.”

Konon, pertemuan itu diketahui oleh Umar dan Abu Bakar yang segera mendatangi rumah Fatimah. Kedatangan mereka digambarkan amat dramatis oleh Ya’qubi sebagaimana dikutip Muhammad Husain Haekal.

“Kedua orang ini bersama-sama dengan yang lain datang dan menyerbu rumah itu. Ketika Ali keluar membawa pedang, yang disambut oleh Umar, maka terjadi pertarungan. Pedang Ali dipatahkan dan mereka menyerbu masuk ke dalam rumah,” tulisnya.

Keributan tersebut berhasil dihentikan oleh Fatimah yang mengancam akan memperlihatkan rambutnya dan ia akan berseru kepada Allah. Para penyerbu keluar, namun kejadian seperti itu berlangsung beberapa hari dan satu-persatu para pendukung Ali berbaiat kepada Abu Bakar.

Ali bin Abi Thalib disebutkan baru berbaiat setelah Fatimah wafat atau enam bulan setelah Abu Bakar dikukuhkan sebegai khalifah. Sumber lain menyebutkan Ali baru berbaiat setelah empat puluh hari setelah pengukuhan.

Versi lain seperti yang diuraikan oleh Ibnu Qutaibah dalam al-Imamah was-Siyasah menyebutkan bahwa setelah Abu Bakar dibaiat di Saqifah Bani Sa’idah, ia dan para pendukungnya mendatangi Ali bin Thalib dan para keluarga Rasulullah untuk memintanya turut berbaiat kepada Abu Bakar.

“Aku tidak akan membaiat, karena dalam hal ini aku lebih berhak daripada kalian. Kamulah yang lebih pantas membaiat aku. Kamu telah mengambil kekuasaan itu dari Ansar dengan alasan kalian kerabat Nabi, dan [sekarang kalian hendak] mengambil dari kami ahlul bait secara paksa,” ucap Ali saat menolak kepemimpinan Abu Bakar. 

Abu Ubaidah bin Jarrah mencoba melunakkan sikap Ali, namun ia justru semakin keras menolak. Demikianlah menurut beberapa versi, keterlambatan Ali membaiat Abu Bakar yang sampai berbulan-bulan dilatari keengganan ahlul bait menerima kepemimpinan di luar keluarga Rasulullah.

Selain itu, ada pula versi lain yang sangat populer di kalangan Muslim Suni, yakni semua Muhajirin dan Ansar tidak ada yang tertinggal atau terlambat dalam membaiat Abu Bakar sebagai khalifah pertama, termasuk Ali bin Abi Thalib.

Gerakan Pemurtadan dan Nabi Palsu

Setelah melewati duri-duri politik di antara para sahabat Rasulullah, Abu Bakar selanjutnya bergerak lebih “ke luar”. Ia mulai menghadapi perubahan yang terjadi di kalangan Muslimin secara luas sepeninggal Rasulullah, salah satunya rencana gelombang murtad Muslimin Makkah. Namun, setelah diyakinkan sejumlah sahabat, akhirnya sebagian dari mereka menerima Abu Bakar dan tetap dalam Islam.

Sebagian yang lain tetap meninggalkan Islam dan mulai melakukan perlawanan. Mula-mula mereka meninggalkan kewajiban zakat yang mereka anggap sebagai beban yang ditimpakan pemerintah di Madinah kepada mereka.

Sikap mereka direspon secara keras oleh Abu Bakar. Dalam 150 Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq (2016) karya Ahmad ‘Abdul ‘Al Al-Thanthawi, khalifah pertama itu berucap:

“Demi Allah, aku akan memerangi mereka yang membedakan antara kewajiban salat dengan zakat […] Demi Allah, andaikan mereka menahan seutas tali yang biasa diberikan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka karena menahan tali itu.”

Selain gerakan pemurtadan di sejumlah tempat, muncul juga nabi-nabi palsu yang membakar beberapa wilayah yang berada dalam kekuasaan Islam dengan api pemberontakan.

Setelah dua tahun memimpin kaum Muslimin dalam situasi yang sangat sulit karena ia menjadi pengganti pertama Rasulullah, Abu Bakar pun mulai mendekati ajalnya. Sebelum wafat, ia berwasiat untuk dimakamkan di samping makam Rasulullah.

Pada 23 Agustus 634 Masehi, tepat hari ini 1.385 tahun lalu, Abu Bakar al-Shiddiq atau Abu Bakar si Benar wafat. Ia melewati tahun yang pendek, namun teramat sulit dalam sejarah kepemimpinan Islam.

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here