Home Blog

HASIL EKSHUMASI SUTRIMO Polda Metro Jaya Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polri dan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

HASIL EKSHUMASI SUTRIMO Polda Metro Jaya Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polri dan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

HASIL EKSHUMASI SUTRIMO : Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

HASIL EKSHUMASI SUTRIMO : Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polridan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polridan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polri dan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

0

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo

Polda Metro Tak Temukan Tanda Kekerasan dalam Kematian Sutrimo
HASIL EKSHUMASI SUTRIMO – Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya (tengah) bersama jajaran dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (30/9/2026). Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

 Penyidik Polda Metro Jaya tidak menemukan tanda kekerasan maupun zat yang menyebabkan kematian Sutrimo.

Kesimpulan tersebut disampaikan Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP I Dewa Putu Gede Anom Danujaya berdasarkan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan penyidik.

“Tidak ditemukan tanda kekerasan, dan zat zat yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Anom.

Anom mengatakan, penyidik juga belum menemukan bukti terjadinya tindak pidana dalam kematian Sutrimo.

Kesimpulan itu diperoleh setelah penyidik menindaklanjuti dua laporan polisi yang dilimpahkan dari Bareskrim Polri dan Polres Banyumas.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan dan dianalisa, belum ditemukan adanya bukti terjadinya tindak pidana dalam meninggalnya jenazah Sutrimo,” kata Anom.

Penyelidikan tersebut didukung hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor), keterangan saksi, serta analisis rekaman CCTV. Selain itu, tim juga melakukan ekshumasi untuk mengetahui penyebab kematian Sutrimo.

Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto mengatakan, hasil pemeriksaan menemukan adanya penyakit jantung iskemik pada Sutrimo.

Tim juga menemukan penyempitan pembuluh darah yang berpotensi memicu serangan jantung iskemik.

“Meninggalnya tuan almarhum Sutrimo karena penyakit jantung iskemik,” ujar Yudianto.

Selain itu, pemeriksaan menemukan edema paru akut yang dialami Sutrimo sebelum meninggal. Kondisi tersebut turut menjelaskan temuan busa putih yang keluar dari mulut korban.

Yudianto menjelaskan, edema paru akut dapat menyebabkan sesak napas berat akibat adanya cairan di paru-paru.

Cairan tersebut bersama lendir dapat membuat saluran napas tidak lancar hingga memicu keluarnya busa berwarna putih.

“Itu bisa disebabkan adanya cairan pada paru-paru serta lendir dan mengakibatkan karena sulit saluran nafas itu tidak lancar. Sehingga seperti dikocok, sehingga keluar busa warna putih, sebenarnya ini termasuk dalam salah satu penyebab keluarnya busa putih tersebut,” tuturnya.

Kematian Sutrimo sebelumnya menjadi sorotan karena dinilai tidak wajar, terutama setelah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa.

 

Strengthening Public Trust, Polda Metro Jaya Public Relations Sharpens Communication Strategy

0

Strengthening Public Trust, Polda Metro Jaya Public Relations Sharpens Communication Strategy

source: pmj

Jakarta. Facing the increasingly rapid flow of information, the Public Relations Division of the Jakarta Metropolitan Police (Polda Metro Jaya) is strengthening its staff’s ability to manage public and media communications. This strengthening was carried out through the Public Relations Technical Working Meeting (Rakernis) for the 2026 Fiscal Year at the TMC Hall of the Jakarta Metropolitan Police Traffic Directorate, Wednesday (09/30/2026).

The Rakernis serves as a forum to improve the ability of Public Relations personnel to convey information quickly, accurately, easily understood, and responsibly to the public.

The activity was opened by the Chief of the Jakarta Metropolitan Police, Commissioner General Asep Edi Suheri. In his direction, the Chief of Police emphasized the importance of speed and accuracy of the Public Relations staff when responding to various events of public concern.

“Trust is born from consistent work, honest communication, and our responsibility to the public. Make this Rakernis a momentum to strengthen capacity and develop a more adaptive communication strategy that will have a real impact,” he said.

The Chief of Police also asked the Public Relations staff to understand the character of the public in conveying information. Professional relationships with the media, as well as monitoring of media and social media, also need to be strengthened so that issue developments can be identified early.

With this monitoring, the Public Relations staff are expected to be able to provide responses based on factual conditions in the field and avoid conveying unverified information.

The 2026 Polda Metro Jaya Public Relations Working Meeting carried the theme “Optimizing Public Communication and Media Management, Polri8 Presisi Public Relations is Ready to Succeed in the Police and Government Work Plan in the Context of Realizing the Jaga Jakarta Program.”

A number of materials were provided to participants, starting from internal strengthening of the Penmas Sub-Division, Multimedia Sub-Division, and PID Sub-Division according to their respective fields of duty.

The material was then continued by Dr. Devie Rahmawati, CICS who discussed public communication and media management. Meanwhile, Warren Giovani provided material on coverage, creation, and content processing.

The series of activities concluded with a round-up of the material by the Head of Polda Metro Jaya Public Relations. On this occasion, awards were also given to personnel who were deemed to have the best performance.

AKP Endro from the Jakarta Metropolitan Police’s Directorate of Public Order Management (Ditsamapta) received the award for Best Public Information Officer (PPID), while AKP Aliani from the Bekasi Metropolitan Police won the award for Best Public Relations Officer.

The Head of Public Relations for the Jakarta Metropolitan Police, Senior Commissioner Budi Hermanto, stated that the Public Relations department’s duties extend beyond publicizing police activities. All information conveyed to the public must be clearly based and verified.

“Public communication isn’t just about publicizing police activities. We must ensure that the information we convey is data-based, verified, has a clear message, and is understood and trusted by the public,” he concluded.

Polda Metro Jaya Gelar Rakernis Humas Perkuat Komunikasi Publik

0

Polda Metro Jaya Gelar Rakernis Humas Perkuat Komunikasi Publik

JAKARTA,  Bidhumas Polda Metro Jaya menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Humas Tahun Anggaran 2026 di Aula TMC Ditlantas Polda Metro Jaya, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas jajaran kehumasan dalam menghadapi perkembangan media dan kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami.

Rakernis dibuka Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri. Dalam arahannya, Kapolda menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam merespons berbagai peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat dengan berpedoman pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kepercayaan lahir dari kerja yang konsisten, komunikasi yang jujur, serta tanggung jawab kita kepada masyarakat. Jadikan Rakernis ini sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas dan menyusun strategi komunikasi yang lebih adaptif serta memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Kapolda juga mengarahkan jajaran Humas untuk memahami karakter masyarakat dalam menyampaikan pesan, membangun hubungan profesional dengan media, serta mengoptimalkan pemantauan media dan media sosial. Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan isu dapat diketahui lebih awal dan respons yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Rakernis Bidhumas Polda Metro Jaya tahun ini mengangkat tema “Optimalisasi Komunikasi Publik dan Manajemen Media, Humas Polri Presisi Siap Menyukseskan Rencana Kerja Polri dan Pemerintah dalam rangka Mewujudkan Program Jaga Jakarta.”

Sejalan dengan tema tersebut, rangkaian materi diawali dengan penguatan internal dari Subbid Penmas, Subbid Multimedia, dan Subbid PID sesuai bidang tugas masing-masing. Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Devie Rahmawati, CICS mengenai komunikasi publik dan manajemen media, serta Warren Giovani yang memberikan materi tentang peliputan, pembuatan, dan pengolahan konten.

Diakhir kegiatan, Kabidhumas memberikan pembulatan atas materi yang telah disampaikan. Rakernis juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada jajaran terbaik, yakni AKP Endro dari Ditsamapta Polda Metro Jaya untuk kategori PPID terbaik dan AKP Aliani dari Polres Metro Bekasi sebagai Kasi Humas terbaik.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Bhudi Hermanto mengatakan, tugas kehumasan tidak hanya berkaitan dengan publikasi kegiatan, tetapi juga memastikan setiap pesan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan telah melalui proses verifikasi.

“Komunikasi publik bukan sekadar bagaimana kita mempublikasikan kegiatan kepolisian. Yang harus kita pastikan adalah informasi yang disampaikan berbasis data, sudah diverifikasi, memiliki pesan yang jelas, kemudian dapat dipahami dan dipercaya masyarakat,” pungkasya.

Perkuat Kepercayaan Publik, Humas Polda Metro Jaya Asah Strategi Komunikasi

0

Perkuat Kepercayaan Publik, Humas Polda Metro Jaya Asah Strategi Komunikasi

JAKARTA,  Bidhumas Polda Metro Jaya menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Humas Tahun Anggaran 2026 di Aula TMC Ditlantas Polda Metro Jaya, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas jajaran kehumasan dalam menghadapi perkembangan media dan kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami.

Rakernis dibuka Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri. Dalam arahannya, Kapolda menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam merespons berbagai peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat dengan berpedoman pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kepercayaan lahir dari kerja yang konsisten, komunikasi yang jujur, serta tanggung jawab kita kepada masyarakat. Jadikan Rakernis ini sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas dan menyusun strategi komunikasi yang lebih adaptif serta memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Kapolda juga mengarahkan jajaran Humas untuk memahami karakter masyarakat dalam menyampaikan pesan, membangun hubungan profesional dengan media, serta mengoptimalkan pemantauan media dan media sosial. Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan isu dapat diketahui lebih awal dan respons yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Rakernis Bidhumas Polda Metro Jaya tahun ini mengangkat tema “Optimalisasi Komunikasi Publik dan Manajemen Media, Humas Polri Presisi Siap Menyukseskan Rencana Kerja Polri dan Pemerintah dalam rangka Mewujudkan Program Jaga Jakarta.”

Sejalan dengan tema tersebut, rangkaian materi diawali dengan penguatan internal dari Subbid Penmas, Subbid Multimedia, dan Subbid PID sesuai bidang tugas masing-masing. Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Devie Rahmawati, CICS mengenai komunikasi publik dan manajemen media, serta Warren Giovani yang memberikan materi tentang peliputan, pembuatan, dan pengolahan konten.

Diakhir kegiatan, Kabidhumas memberikan pembulatan atas materi yang telah disampaikan. Rakernis juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada jajaran terbaik, yakni AKP Endro dari Ditsamapta Polda Metro Jaya untuk kategori PPID terbaik dan AKP Aliani dari Polres Metro Bekasi sebagai Kasi Humas terbaik.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Bhudi Hermanto mengatakan, tugas kehumasan tidak hanya berkaitan dengan publikasi kegiatan, tetapi juga memastikan setiap pesan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan telah melalui proses verifikasi.

“Komunikasi publik bukan sekadar bagaimana kita mempublikasikan kegiatan kepolisian. Yang harus kita pastikan adalah informasi yang disampaikan berbasis data, sudah diverifikasi, memiliki pesan yang jelas, kemudian dapat dipahami dan dipercaya masyarakat,” pungkasya.

Demi Perkuat Kepercayaan Publik, Humas Polda Metro Jaya Asah Strategi Komunikasi

0

Perkuat Kepercayaan Publik, Humas Polda Metro Jaya Asah Strategi Komunikasi

JAKARTA,  Bidhumas Polda Metro Jaya menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Humas Tahun Anggaran 2026 di Aula TMC Ditlantas Polda Metro Jaya, Rabu (30/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peningkatan kapasitas jajaran kehumasan dalam menghadapi perkembangan media dan kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami.

Rakernis dibuka Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri. Dalam arahannya, Kapolda menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam merespons berbagai peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat dengan berpedoman pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kepercayaan lahir dari kerja yang konsisten, komunikasi yang jujur, serta tanggung jawab kita kepada masyarakat. Jadikan Rakernis ini sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas dan menyusun strategi komunikasi yang lebih adaptif serta memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Kapolda juga mengarahkan jajaran Humas untuk memahami karakter masyarakat dalam menyampaikan pesan, membangun hubungan profesional dengan media, serta mengoptimalkan pemantauan media dan media sosial. Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan isu dapat diketahui lebih awal dan respons yang diberikan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Rakernis Bidhumas Polda Metro Jaya tahun ini mengangkat tema “Optimalisasi Komunikasi Publik dan Manajemen Media, Humas Polri Presisi Siap Menyukseskan Rencana Kerja Polri dan Pemerintah dalam rangka Mewujudkan Program Jaga Jakarta.”

Sejalan dengan tema tersebut, rangkaian materi diawali dengan penguatan internal dari Subbid Penmas, Subbid Multimedia, dan Subbid PID sesuai bidang tugas masing-masing. Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Devie Rahmawati, CICS mengenai komunikasi publik dan manajemen media, serta Warren Giovani yang memberikan materi tentang peliputan, pembuatan, dan pengolahan konten.

Diakhir kegiatan, Kabidhumas memberikan pembulatan atas materi yang telah disampaikan. Rakernis juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada jajaran terbaik, yakni AKP Endro dari Ditsamapta Polda Metro Jaya untuk kategori PPID terbaik dan AKP Aliani dari Polres Metro Bekasi sebagai Kasi Humas terbaik.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Bhudi Hermanto mengatakan, tugas kehumasan tidak hanya berkaitan dengan publikasi kegiatan, tetapi juga memastikan setiap pesan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas dan telah melalui proses verifikasi.

“Komunikasi publik bukan sekadar bagaimana kita mempublikasikan kegiatan kepolisian. Yang harus kita pastikan adalah informasi yang disampaikan berbasis data, sudah diverifikasi, memiliki pesan yang jelas, kemudian dapat dipahami dan dipercaya masyarakat,” pungkasya.